MAKALAH
NAPZA (NARKOTIKA,PSIKOTROPIKA,ZAT ADITIF)

OLEH:
NAMA:ADIANG,BAKIR
NIM:1.11-027
JURUSAN:ANAKES
AKADEMI ANALIS
KESEHATAN SANDIKARSA MAKASSAR 20313/2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “NAPZA
Diharapkan Makalah ini dapat
memberikan informasi kepada kita semua tentangNAPZA. Kami menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima
kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini
dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.
Amin.
MAKASSAR 30 JUNI 2013/2014
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB
I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
b. Tujuan Dan Manfaat
BAB
II PEMBAHASAN
A. Pengertian Narkotika,Zat Aditif,Dan
Psikotropika
B. Golongan-Golongan
Narkotika
1. Golongan I
2.
Golongan
II
3.
Golongan
III
C. Karakteristik
Narkotika Dan Efek Narkotika
D. Golongan-Golongan
Zat Aditif
4. Golongan I
5.
Golongan
II
6.
Golongan
III
- Macam – Macam Zat Adiktif Dan/Efek Yang Di Timbulkan
a.
Ganja
b.
Opium.
c.
Kokain
d.
Sedatifa Dan Hipnotika
(Penenang)
e.
Nikotin.
f.
Alkohol
- PSIKOTOPIKA
A.TINJAUAN PEMBELAJARAN
1.Antipsikotropika
2.Antiansietas
3.Antidepresi
4.Litium(Antimatik)
BAB
III PENUTUP
A.Kesimpulan
B.Daftar
Pustak
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Narkoba atau NAPZA adalah bahan /
zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan psikologi seseorang ( pikiran,
perasaan dan perilaku ) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan
psikologi. Yang termasuk dalam NAPZA adalah : Narkotika, Psikotropika dan Zat
Adiktif lainnya.
Narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya
(NAPZA) yang biasa disebut narkoba merupakan jenis obat/zat yang diperlukan di
dalam dunia pengobatan. Akan tetapi apabila dipergunakan tanpa pembatasan dan
pengawasan yang seksama dapat menimbulkan ketergantungan serta dapat
membahayakan kesehatan bahkan jiwa pemakainya.
Penyalahgunaan narkoba pada akhir tahun ini dirasakan semakin meningkat.
Dapat kita amati dari pemberitaan-pemberitaan baik di media cetak maupun
elektronika yang hampir setiap hari memberitakan tentang penangkapan para
pelaku penyalahgunaan narkoba oleh aparat keamanan. Kebanyakan pelakunya adalah
remaja belasan tahun, mereka pasti sudah mengerti tentang bahaya mengkonsumsi
narkoba, tapi mengapa mereka menggunakannya
. Zat adiktif
adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi oleh organisme
hidupdapat menyebabkan kerja biologi serta menimbulkan ketergantungan atau
adiksi yang sulitdihentikan dan berefek ingin menggunakannya secara
terus-menerus yang jika dihentikan dapatmemberi efek lelah luar biasa
atau rasa sakit luar biasa.
Penyalahgunaan
zat adiktif lebih merupakan masalah sosial. Pencegahannya harus ditangani
secara terpadu, khususnya antara aspek tatanan kehidupan sosial, hukum dan
penegakannya, administrasi dan pengawasan obat, pendidikan, serta terapi dan
rehabilitasi ‘korban’
Ketergantungan zat adiktif adalah
penyakit yang dibuat oleh manusia sendiri. Terapi dan rehabilitasinya
bergantung kepada manusia itu sendiri pula. Berbeda dengan masalah
penanggulangan masalah zat adiktif yang lebih merupakan masalah sosial, masalah
penanganan ‘pasien” ketergantungan zat merupakan masalah medikososial. Dengan
demikian penanganan tersebut pun bergantung kepada aspek bio-psiko-sosial,
memerlukan pendekatan menyeluruh yang didukung oleh suatu tim yang terdiri atas
berbagai cabang ilmu kedokteran
Psikotropik adalah obat yang bekerja dan
mempengaruhi fungsi psikik dan proses mental. Psikotropik terbagi 4 bagian
yaitu Antipsikosis(gangguan mental),Antiansietas(perasaan cemas),Antidepresi(perasaan
putus asa), dan Psikotogenik(halusinasi). Antipsikosis adalah dapat mengobati
gangguan mental pada penderita skizoprenia mengatasi agresivitas,hiperaktivitas
dan labilitas emosinal pasien psikosis. Antipsikotik menghambat dopamin pada
otak sehingga memulihkan gejala psikotik dan menghambat daerah pemicu
kemoreseptor dan pusat muntah(emetik) pada otak sehingga menghasilkan efek
antiemetik. Dosis besar tidak menyebakan anestesi/koma. Antiansietas =
sedatif-hipnotik yang berguna dalam pengobatan sistomatik penyakit
psikoneurosis yang didasari perasaan cemas dan ketegangan mental. Antidepresi
adalah obat untuk mengatasi depresi mental yang biasanya mendadak dan adanya
kejadian pencetus. Psikotogenik adalah obat yang dapat menimbulkan kelainan
tingkah laku rasa takut disertai halusinasi,ilusi,gangguan cara fikir dan
perubahan alam perasaan jadi dapat menimbulkan psikosis
B.TUJUAN DAN
MANFAAT
1.
Mengetahui
Apa Itu Narkotika
2.
Mengetahui
Golongan – Golongan Narkotika
3.
Mengetahui
Karakteristik Efek Narkotika
4. Mengetahui Apa Itu zat adiktif
?
5. Mengetahui Golongan – Golongan zat
adiktif ?
6. Mengetahui Karakteristik Efek zat
adiktif ?
7. Untuk menyelesaikan makalah
Farmakologi
8. Untuk mengetahui pengertian obat
psikotropik
9. Untuk mengetahui guna obat psikotropik
10. Untuk mengetahui macam-macam obat
psikotropik
BAB II
PEMBAHASAN
A.PENGERTIAN
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau
bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Zat Adiktif adalah
istilah untuk zat-zat yang pemakaiannya dapat menimbulkan ketergantungan fisik
yang kuat dan ketergantungan psikologis yang panjang (drug
dependence).Bahan-bahan kimia tidak hanya menyangkut bahan bahan kimia yang ada
di rumah tangga, seperti pemutih, pembersih, dan zat-zat aditif makanan, tetapi
juga zat zat yang dapat menimbulkan pengaruh negatif atau efek samping bagi kesehatan
jika pemakaiannya disalahgunakan. Bahan
kimia dimaksud di sini adalah kelompok zat kimia yang tergolong ke dalam zat
adiktif dan psikotropika.
Kelompok zat adiktif adalah narkotika (zat
atau obat yang berasal dari tanaman) atau bukan tanaman, baik sintetik maupun
semisintetik, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,
mengurangi sampai menghilangkan rasa sakit, dan dapat menimbulkan
ketergantungaN.
Psikotropika : zat atau obat baik alamiah
maupun sintesis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Contoh : Ekstasi
Zat adiktif lainnya : zat adiktif yang
bukan narkotika dan psikotropika atau zat-zat baru hasil olahan manusia yang
menyebabkan kecanduan.
B.GOLONGAN – GOLONGAN NARKOTIKA
1. Narkotika
Golongan I :
Berpotensi
sangat tinggi menyebabkan ketergantungan tidak digunakan untuk terapi
(pengobatan).
Contoh
:
Heroin,
Kokain Dan Ganja. Putauw adalah heroin tidak murni berupa bubuk.
2. Narkotika
golongan II :
berpotensi
tinggi menyebabkan ketergantungan. Digunakan pada terapi sebagai pilihan
terakhir.
Contoh
:
morfin,
petidin dan metadon.
3. Narkotika
golongan III :
berpotensi
ringan menyebabkan ketergantungan dan banyak digunakan dalam terapi.
Contoh
:
kodein.
C.KARAKTERISTIK DAN EFEK NARKOTIKA
I.
Golongan I
a. Heroin:
a) Merupakan
Narkoba
b) yang
sangat cepat menimbulkan ketergantungan.
c) Berupa
serbuk putih dengan rasa pahit. Dalam pasaran warnanya bisa putih, coklat atau
dadu.
d) Cara
penggunaan dapat disuntikan, dihirup dan dimakan
a) Menimbulkan
rasa kantuk, lesu, penampilan “dungu”, jalan mengambang, rasa senang yang
berlebihan.
b) Konsumsi
dihentikan menimbulkan rasa sakit dan kejang-kejang, kram perut, menggigil,
muntah- muntah, mata berair, hidung berlendir, hilang nafsu makan dan
kehilangan cairan tubuh.
c) Menimbulkan
kematian bila over dosis.
b.Kokain:
Kokain dibagi
menjadi 2 yaitu kokain asam dan basa
a) Berupa
Kristal putih.
b) Rasa
pahit.
c) Mudah
larut.
a) Berupa
Kristal putih
b) Rasanya
pahit
c) Tidak
berbau
Menjadi
bersemangat, gelisah, susah makan, paranoid, lever terganggu. Shabu-shabu
mengakibatkan efek yang sangat kuat pada system syaraf. Berat badan
menyusut, kejang-kejang, halusinasi, paranoid, kerusakan usus ginjal.
c.
Ganja:
Ganja dikenal dengan
nama mariyuana, hashish, gelek, Budha stick, cimeng, grass.
a) Menimbulkan
ketergantungan psikis yang diikuti oleh kecanduan fisik dalam waktu lama,
terutama bagi mereka yang telah rutin menggunakannya.
b) Bentuk
daun kering, cairan yang lengket, minyak ‘damar ganja’.
a)
Menurunkan keterampilan motorik,
peningkatan denyut jantung, rasa cemas, banyak bicara, perubahan persepsi
tentang ruang dan waktu, halusinasi, rasa ketakutan dan agresif, rasa senang
berlebihan, selera makan meningkat.
b)
Pengaruh jangka panjang peradangan
paru-paru, aliran darah ke jantung berkurang, daya tahan tubuh terhadap infeksi
menurun, mengurangi kesuburan, daya pikir berkurang, perhatian ke sekitar
berkurang.
II.
Golongan II
a.Morfin:
a)
Analgesik yang kuat.
b)
Tidak berbau.
c)
Berupa kristal putih yang warnanya
menjadi kecoklatan.
a)
Mengurangi rasa nyeri, kantuk atau
turunnya kesadaran.
b)
Sembelit, gangguan menstruasi dan
impotensi.
c)
Pemakaian dengan jarum suntik
menyebabkan HIV/AIDS, Hepatitis B & C.
d)
Pemakaian dikurangi atau dihentikan :
hidung berair, keluar air mata otot kejang, mual, muntah dan mencret.
b.Pethidin
a) Serbuk
kristal putih
b) agak
pahit,
c) sangat
larut dalam air dan larut dalam alkohol
a)
Depresi pernapasan,
b)
Sistem saraf : sakit kepala, gangguan
penglihatan, vertigo, depresi, rasa mengantuk, koma, eforia, disforia, lemah,
agitasi, ketegangan, kejang,
c)
Pencernaan : mual, muntah, konstipasi,
d)
Kardiovaskular : aritmia, hipotensi
postural,
e)
Reproduksi, ekskresi & endokrin :
retensi urin, oliguria.
f)
Efek kolinergik : bradikardia, mulut
kering, palpitasi, takikardia, tremor otot, pergerakan yg tidak terkoordinasi,
delirium atau disorintasi,halusinasi.
g)
Lain-lain : berkeringat, muka merah,
pruritus, urtikaria, ruam ku
c.Metadon
a)
Mual
b)
muntah: 10-15% mengalami efek samping
ini, yang biasanya hilang setelah beberapa hari.
c)
sembelit: seperti opiat lain, gizi dan
olahraga dapat membantu
d)
keringat: dapat muncul sebagai efek
samping, atau karena takaran metadon tidak sesuai
e)
amenore: masa haid terlambat, atau
kadang kala lebih teratur
f)
libido: penurunan pada gairah seksual
g)
kelelahan: dapat dikurangi dengan
mengurangi takaran
III.
Golongan III
a.Kodein
Konstipasi bisa
menyulitkan pada penggunaan jangka panjang
a)
pusing, mual, muntah
b)
kesulitan BAK;
c)
spasme ureter atau saluran empedu;
d)
mulut kering, sakit kepala, berkeringat,
pelebaran pembuluh darah di wajah
e)
Ketergantungan.
D.GOLONGAN-GOLONGAN ZAT ADITIF
Narkotika menurut tujuan penggunaan
dan tingkatan risiko ketergantungannya terbagi dalam 3 golongan zataditif
yaitu:
- Golongan I, narkotika hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta memiliki potensi sangat tinggi untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan.
- Golongan II, narkotika untuk pengobatan yang digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi kuat untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan.
- Golongan III, narkotika untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta berpotensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan
/
a. Ganja
Ganja atau mariyuana merupakan zat
adiktif narkoba dari golongan kanabionoid. Ganja terbuat dari daun, bunga,
biji, dan ranting muda tanaman mariyuana (Cannabis sativa) yang sudah kering.
Tanda-tanda penyalahgunaan ganja, yaitu gembira dan tertawa tanpa sebab,
santai dan lemah, banyak bicara sendiri, pengendalian diri menurun, menguap
atau mengantuk, tetapi susah tidur, dan mata merah, serta tidak tahan terhadap
cahaya dan badan kurus karena susah makan. Tanda-tanda gejala putus obat
(ganja), yaitu sukar tidur, hiperaktif, dan hilangnya nafsu makan. Tanda-tanda
gejala overdosis, yaitu ketakutan, daya pikir menurun, denyut nadi tidak
teratur, napas tidak teratur, dan mendapat gangguan jiwa.
b.
Opium
Opium
merupakan narkotika dari golongan opioida, dikenal juga dengan sebutan candu,
morfin, heroin, dan putau. Opium diambil dari getah buah mentah Pavaper sommiverum.
Opium
digunakan untuk menghilangkan rasa sakit karena luka atau menghilangkan rasa
nyeri pada penderita kanker. Namun dalam dosis berlebih dapat mengakibatkan
kecanduan yang akhirnya menyebabkan kematian.
Penggunaannya yang menyalahi aturan dapat menimbulkan rasa sering mengantuk,
perasaan gembira berlebihan, banyak berbicara sendiri, kecenderungan untuk
melakukan kerusuhan, merasakan nafas berat dan lemah, ukuran pupil mata
mengecil, mual, susah buang air besar, dan sulit berpikir. Jika pemakaian obat
ini diputus, akan timbul hal-hal berikut: sering menguap, kepala terasa berat,
mata basah, hidung berair, hilang nafsu makan, lekas lelah, badan menggigil,
dan kejang-kejang. Jika pemakaiannya melebihi dosis atau overdosis, akan
menimbulkan hal-hal berikut: tertawa tidak wajar, kulit lembap, napas pendek
tersenggal-senggal, dan dapat mengakibatkan kematian.
c. Kokain
Kokain
termasuk ke dalam salah satu jenis dari narkotika. Kokain diperoleh dari hasil
ekstraksi daun tanaman koka (Erythroxylum coca). Zat ini dapat dipakai sebagai
anaestetik (pembius) dan memiliki efek merangsang jaringan otak bagian sentral.
Pemakaian zat ini menjadikan pemakainya suka bicara, gembira yang meningkat
menjadi gaduh dan gelisah, detak jantung bertambah, demam, perut nyeri, mual,
dan muntah. Seperti halnya narkotika jenis lain, pemakaian kokain dengan dosis
tertentu dapat mengakibatkan kematian
d. Sedativa
dan Hipnotika (Penenang)
Beberapa
macam obat dalam dunia kedokteran, seperti pil BK dan magadon digunakan sebagai
zat penenang(sedativa-hipnotika). Pemakaian sedativa-hipnotika dalam dosis
kecil dapat menenangkan, sedangkan dalam dosis besar dapat membuat orang yang
memakannya tertidur.
Gejala
akibat pemakaiannya adalah mula-mula gelisah, mengamuk lalu mengantuk, malas,
daya pikir menurun, bicara dan tindakan lambat. Jika sudah kecanduan, kemudian
diputus pemakaiannya maka akan menimbulkan gejala gelisah, sukar tidur,
gemetar, muntah, berkeringat, denyut nadi cepat, tekanan darah naik, dan
kejang-kejang.
Jika pemakaiannya overdosis maka
akan timbul gejala gelisah, kendali diri turun, banyak bicara, tetapi tidak
jelas, sempoyongan, suka bertengkar, napas lambat, kesadaran turun, pingsan,
dan jika pemakaiannya melebihi dosis tertentu dapat menimbulkan kematian
e. Nikotin
Nikotin
dapat diisolasi atau dipisahkan dari tanaman tembakau. Namun, orang biasanya
mengonsumsi nikotin tidak dalam bentuk zat murninya, melainkan secara tidak
langsung ketika mereka merokok. Nikotin yang diisap pada saat merokok dapat
menyebabkan meningkatnya denyut jantung dan tekanan darah, bersifat
karsinogenik sehingga dapat meningkatkan risiko terserang kanker paru-paru,
kaki rapuh, katarak, gelembung paru-paru melebar (emphysema), risiko terkena
penyakit jantung koroner, kemandulan, dan gangguan kehamilan.
f. Alkohol
Alkohol
diperoleh melalui proses peragian (fermentasi) sejumlah bahan, seperti beras
ketan, singkong, dan perasan anggur. Alkohol ini sudah dikenal manusia cukup
lama. Salah satu penggunaan alkohol adalah untuk mensterilkan berbagai
peralatan dalam bidang kedokteran.
Tanda-tanda
gejala pemakaian alkohol, yaitu gembira, pengendalian diri turun, dan muka
kemerahan. Jika sudah kecanduan meminum minuman keras, kemudian dihentikan
maka akan
timbul gejala gemetar, muntah, kejang-kejang, sukar tidur, dan gangguan jiwa.
Jika overdosis akan timbul gejala perasaan gelisah, tingkah laku menjadi kacau,
kendali turun, dan banyak bicara sendiri.
Ada 3 golongan minuman beralkohol :
a. Golongan
A : kadar etanol 1 – 5 % ( Bir ).
b. Golongan B
: kadar etanol 5 – 20 % ( Berbagai minuman anggur )
c. Golongan
C : kadar etanol 20 – 45 % ( Whisky, Vodca, Manson House, Johny Walker ).
F.PSIKOTROPIKA
1.ANTIPSIKOTIK
CPZ
merupakan fenotiazin pertama yang digunakan untuk pengobatan perilaku psikotik
klien rumah sakit jiwa berefek sedasi kuat menurunkan tekanan darah yang
disertai sikap kecekapan dan daya fikir berkurang, aktivitas motorik terganggu,
menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramid). CPZ dapat mencegah
muntah yang disebabkan kelainan saluran cerna, rangsangan chemoreceptor trigger
zone. Sedangkan fenotiazin dapat mempengaruhi ganglia basal sehingga
menimbulkan efek ekstarpiramidal. CPZ dapat menghambat ovulasi dan menturasi,
dapat menghambat sekresi Acetil kolin dan menimbulkan hipotensi karena CPZ
berefek alfa bloker inotropik negatif jantung.
Efek
farmakokinetik > diabsorbsi dengan baik bila diberikan per oral dan
parenteral, penyebaran luas kesemua jaringan dengan kadar tinggi di paru-paru,
hati, dan limpa.
Efek samping
> batas keamanan cukup besar dan cukup aman, gejala ekstrapiramidal,
distonia akut(wajah menyeringai, akastisia(gelisah, terus bergerak),
parkinsonisme, sindrom neuroleptik malignat( demam, tekanan darah tidak
stabil), tremor, mulut dan tenggorokan kering dan diskenesia tardif ( mulut dan
wajah distonia meluas). Indikasi utama fenotiazin untuk pengobatan skizoprenia
gangguan psikosis terutama ketegangan hiperaktivitas, halusinasi, susah tidur,
anoreksia, perhatian diri sangat buruk dan negativisme.
Farmakodinamika : efek hipotensi dan mual maka setiap pengobatan diberikan bersama obat hipertensi dan antasida agar mengurangi laju absorbsi dari kedua obat tersebut.
Farmakodinamika : efek hipotensi dan mual maka setiap pengobatan diberikan bersama obat hipertensi dan antasida agar mengurangi laju absorbsi dari kedua obat tersebut.
Diabsorbsi
baik melalui mukosa gastrointestinal mempunyai waktu paruh panjang dan tinggi
berikatan dengan protein sehingga obat dapat diakumulasi dan sebagian besar
diekresi dalam urin. Obat ini untuk mengendalikan psikosis dan mengurangi
tanda-tanda agitasi pada orang dewasa dan anak-anak. Untuk usia lanjut dosisnya
dikurangi karena berkurangnya fungsi hati dan efek samping yang mungkin timbul.
Bisa juga digunakan untuk anak hiperaktif. Berefek antikolinergik dan harus
hati-hati pada pasien riwayat glaukoma. Pemakaian jangka panjang dapat
berakibat fotosensitifitas pada kulit dan diskrasia darah = gangguan sel darah.
Perlu diawasi adanya ekstraparamidal symptoms = EPS. Efek samping yang
merugikan : mulut kering, meningkatkan denyut jantung, retensi urin,
konstipasi, tekanan darah turun, gejala ekstrapyramidal symtomps, sedasi,
akatisia, distonia, diskinesia, mual, rasa tidak enak pada abdomen, sakit
kepala, muntah tetapi tidak menimbulkan efek teratogenik. Efek kardiovaskuler
dapat siatasi dengan pemberian awal rendah bertahap dosis dinaikkan, sebaiknya
tidak baik diberikan pada wanita hamil. Obat ini dapat menyebabkan pandangan
kabur (blurring of vision) dan dapat menyebabkan hipotensi tetapi tidak sehebat
CPZ. Interaksi obat : pasien yang memakai antikonvulsi tidak boleh memakai
fenotiazin alifatik dan tiosantin > menurunkan ambang serangan kejang >
harus diberikan antikonvulsi dosis tinggi untuk mencegah serangan kejang.
II.ANTIANSIETAS
Obat yang digunakan untuk pengobatan
ansietas adalah sedatif terutama pada golongan Benzodiazepin. Golongan
Benzodiazepin yang di anjurkan adalah Klordiazepoksid(Librium),
Diazepam(Valium), Oksazepam(Serax), Klorazepat (Tranxene), Lorazepam(Ativan),
Prazepam(Centrax), Alprazolam(Xanax) dan Halozepam(Paxipam). Benzodiazein
digunakan untuk antikonvulsi, antihipertensi,sedasi-hipnotik, obat-obat
preoperasi dan antiansietas. Benzodiazepin larut dalam lemak diabsorbsi si
saluran gastrointestinal dan berkaitan dengan protein > 80%, sisa
metabolisme obat ini masih terdapat dalam urin selama beberapa hari. Efek
samping : pada penggunaan terapi timbul kantuk,serasi, pusing, sakit kepala,
mulut kering, penglihatan kabur dan konstipasi. Reaksi yang merugikan adalah
lekopenia (menurunnya jumlah sel darah putih), gejala demam, nyeri tenggorokan
dan ketergantungan fisik. Tidak boleh dihentikan mendadak, gejala putus obat
ini seperti sedatif-hipnotik(menyebabkan tidur) = agitasi, gelisah, kejang
otot, berkeringat > gejala ini lambat setelah 2-10 hari dapat berminggu-minggu.
Menghentikan harus bertahap tidak boleh bersamaan alkohol > dapat terjadi
depresi pernafasan. Tidak boleh diberikan pada wanita hamil > dapat terjadi
efek teratogenik pada janin. Efek yang lain adalah perangsang nafsu makanan
yang ditimbulkan oleh derivat benzodoazepin. Toksisitas rendah dijumpai ketidak
teraturan menstruasi dan kegagalan ovulasi pada wanita yang sedang menggunakan
Benzodiazepin ini.
Librium > untuk efek sedatif = penenang
Diazepam > waktu paruh panjang dan lebih aman.
Meprobamat >lebih sering dan disukai karena efek
samping rendah untuk merendahkan ansietas dan pelemas otot serta alkohol harus
di hindari. Hidroksizin hidroklorida (
Atrax, Vistarif) dan Difenhidramin Hidroklorida (Benadry) > merupakan anti
histamin > menimbulkan kantuk mempunyai efek sedatif dan meredakan ansientas
jangka pendek.
Buspiron
hidroklorida (Buspar) > meredakan
ansietas > efek sedasi, ketergantungan fisik dan psikologis, tidak efektif
setelah pemakaian terus menerus selama 1-2 minggu.
Efek
farmakologi sama dengan fenotiazin, butirofenon, dan tiosanten. Termasuk
deruvat Loksapin yang memiliki efek antiemetik, sedatif, antikolinergik dan
antiadrenergik yang berguna untuk mengunakan skizofrenia dan psikosis lainnya.
Efek samping : reaksi ekstrapiramidal dan harus hati-hati digunakan pada pasien
riwayat kejang. Diarbsorbsi baik peroral, kadar puncak plasma dipuncak 1 jam
IM dan 2 jam per oral.
Klozapin
menunjukan efek antipsikosis lemah, mempengaruhi fungsi syaraf dopamin yang
berhubungan dengan fungsi emosional dan mental. Klozapin efektif untuk
mengontrol gejala-gejala psikosis dan skizofrenia baik yang positif maupun yang
negatif. Penggunaannya dibatasi karena dapat menimbulkan resisten sehingga
selama menggunakan obat ini perlu di pantau jumlah sel darah putihnya setiap
minggu. Efek samping dan intoksikasi : menimbulkan
agranulositosis,kantuk,pusing kepala, hipersaliva, depresi nafas,
hipertermia,takikardi,sedasi, aritmia dan kejang. Farmakokinetika : diabsorbsi
secara cepat pada pemberian peroral, dimetabolisme sempurna dan diekskresi
leawat tinjaudan urin.
III. ANTIDEPRESI
Depresi
adalah gangguan yang heterogen. Obat ini dapat memperbaiki suasana jiwa(mood) dan dapat meringankan gejala
murung yang tidak disebabkan oleh kesulitan sosial ekonomi, obat atau penyakit.
Pada antidepresi digunakan klasifikasi Diagnostik And Statistical Manual Of
Disorders Revised yang dikeluarkan oleh ikatan Ahli Psikiatri Amerika. Menurut
klasifikasi tersebut depresi major dan distrimia (minor) merupakan sindrom
depresi murni, sedangkan gangguan bipolar dan gangguan siklotik memperlihatkan
depresi yang diselingi dengan mania. Klasifikasi depresi adalah :
- Depresi Eksogen = reaktif = sekunder > biasanya di mulai mendadak dan adanya pencetus (karena penyakit dan kesedihan) > respon terhadap obat (efek samping) anti hipertensi, kortikosteroid, pil anti hamil, biasanya diresepkan Benzodiazepin long akting.
- Depresi Endogen = Melacholia =Vistal > merupakn gangguan biokimia yang ditentukan secara genetik, bermanifestasi sebagai ketidak mampuan untuk mengatasi stres. Terjadi gangguan psikomotor lenyapnya motivasi berperasaan seolah-olah waktu berjalan sangat lambat cenderung ingin bunuh diri, depresi yang dalam disebut disporia.
- Depresi Afektif Bipolar = Mania > merupakan antara dua mood, manik (euforia) dan depresi (disforia) – obatnya Litium. Depresi afektif bipolar > karena depresi post nasal (post partum), perubahan hormonal > post menapause, usia lanjut >70 tahun.
Mekanisme
Kerja :
Ø Depresi
endogen berhubungan dengan kekurangan Narodrenalin & Serotonin dalam otak.
Ø Antidepresi > menghambat Reuptake
Amin kedalam lambung presinaptik
Antidepresi
dibagi dalam beberapa kelompok yaitu :
1
.Penghambat enzim MAO (Mono Amin Oksidase) > untuk
mengatasi depresi tetapi penggunaannya sangat terbatas karena toksik,
hipertensi karena terlepasnya norepineprin dari ujung syaraf, hipertensi
disebabkan tertimbulnya katekolamin. Obat ini tidak lagi digunakan karena ada
obat yang lebih aman. Contoh : Isokarboksazid, Nialamid, Moklobemid, Tranilsi
promin.
2.Antidepresi Trisiklik (ATS), obat
ini lebih banyak dipakai pengganti penghambat
MAO. Diberikan pada malam hari untuk mengurangi efek sedasi yang timbul.
Menghentikan ATS harus bertahap dikurangi untuk menghindari mual, muntah,
ansietas dan akatisi. Contoh : Imipramin, Desipramin, Trimipramin, Opipramol,
Dibenzepin, Amitriptolin dan Doksepin.
3. Antidepresan
generasi kedua: Senyawa lain > obat-obat ini merupakan antodepresi yang
relatif baru. Efek sampingnya lebih ringan dari antidepresan lainnya. Contoh :
Amoksapin, Fluoksetin, Bupropion, Nomifensin, Trazodon dan Maproptilin.
VI.LITIUM (Li) = ANTIMATIK
Litium (Li)
merupakan logam alkali yang paling ringan yang mirip sifatnya dengan Natrium
dan Kalium. Yang berguna mengobati gangguan afektif bipolar atau manik depresi.
Obat ini mudah ditera dengan menggunakan Flame Photometer dan Atomic
Absorbption Spectro Photometer.
Farmakologi
:
Ø Tidak
bersifat sedatif, depresif atai euforian
Ø Penyebaran
menembus membran relatif kecil tidak seperti Na & K. Sangat toksik untuk
kelenjar tiroid, SSP dan ginjal. Mempengaruhi metabolisme karbohidrat
menyebabkan leukositosis dan reaksi alergi.
Ø
Gangguan
efektif bipolar, paling efektif dalam mengendalikan fase manik-depresi.
Ø
Efek
menenangkan tanpa menganggu aktivitas intelektual.
Ø
Mengendalikan
lonjatan isi pikir (fight of ideas) dan hiperaktivitas.
Ø
Litium
memperbatas terapeutik serum > 0,8 -1,5 mEq/L
Ø Kadar Litium
serum yang lebih dari 1,5 -2,0 mEq/L
bersipat toksik maka harus dipantau.
Ø
Lebih dari
95% Litium diabsorbsi melalui gastrointestinal. Waktu paruh 24 jam dan untuk
usia lanjut > 36 jam. Litium
dimetabolisme di hati dan dieksresikan dalam bentuk tidak diubah melalui urin.
Efek samping
Litium :
Sakit
kepala, mengantuk, letargi, pusing, tremor, sulit bicara, mulut kering,
anoreksia, muntah, diare, hipotensi, nyeri abdomen, bertambahnya pengeluaran
urin dan kelemahan otot.
Kontra
indikasi :
Penyakit
hati dan ginjal yang berat, kehamilan, penyakit jangan berat, dan dehidrasi
Reaksi yang
merugikan : Aritmia jantung dan kolaps sirkulasi
Interaksi :
·
Diuretik > Metil Dopa, Haloperidol, Teifilin,
Natrium Bikorbonat, Fenotiazin bertambah bila dimasukkan Natrium.
Tidak semua
penderita depresi memerlukan antidepresi, depresi ringan biasanya dapat sembuh
dengan sendirinya atau cukup dengan psikoterapi. Bila pengobatan antidepresi
selama 3-4 minggu tidak memberikan perbaikan klinis maka pengobatan harus
ditinjau kembali dan dipertimbangkan tindakan lain misalnya dengan Electro
Convultion Therapy (ECT) dan dengan pemberian MAO (Mono Amino Oksidase).
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau
bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.
1. Narkotika
Golongan I :
Berpotensi
sangat tinggi menyebabkan ketergantungan tidak digunakan untuk terapi
(pengobatan).
Contoh
:
Heroin,
Kokain Dan Ganja. Putauw adalah heroin tidak murni berupa bubuk.
2. Narkotika
golongan II :
berpotensi
tinggi menyebabkan ketergantungan. Digunakan pada terapi sebagai pilihan
terakhir.
Contoh
:
morfin,
petidin dan metadon.
3. Narkotika
golongan III :
berpotensi
ringan menyebabkan ketergantungan dan banyak digunakan dalam terapi.
Contoh
:
kodein.
Zat adiktif adalah
istilah untuk zat-zat yang pemakaiannya dapat menimbulkan ketergantungan fisik
yang kuat dan ketergantungan psikologis yang panjang (drug dependence).
Kelompok zat adiktif adalah narkotika (zat atau obat yang berasal dari tanaman)
atau bukan tanaman, baik sintetik maupun semisintetik, yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, mengurangi sampai menghilangkan rasa sakit,
dan dapat menimbulkan ketergantungan.Narkotika menurut tujuan penggunaan dan
tingkatan risiko ketergantungannya.
terbagi dalam 3 golongan, yaitu:
1. Golongan I, narkotika hanya digunakan untuk
tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta memiliki potensi
sangat tinggi untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan.
2. Golongan II, narkotika untuk pengobatan yang
digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau untuk
tujuan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi kuat untuk mengakibatkan sindrom
ketergantungan.
3. Golongan III, narkotika untuk pengobatan dan
banyak digunakan dalam terapi atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
berpotensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan.
1. Psikotropik
adalah obat yang bekerja dan mempengaruhi fungsi psikik dan proses mental.
2. Psikotropik
terbagi 4 bagian yaitu Antipsikosis(gangguan mental), Antiansietas(perasaan
cemas), Antidepresi(perasaan putus asa), dan Psikotogenik(halusinasi).
3. Antipsikosis
adalah dapat mengobati gangguan mental pada penderita skizoprenia mengatasi
agresivitas,hiperaktivitas dan labilitas emosinal pasien psikosis.
4. Antiansietas
= sedatif-hipnotik yang berguna dalam pengobatan sistomatik penyakit
psikoneurosis yang didasari perasaan cemas dan ketegangan mental.
Antidepresi
adalah obat
B.SARAN
- Saran :
·
Semoga setelah membaca makalah ini anda lebih mudah
untuk memahami tentang NAPZA
·
Semoga ini dapat anda gunakan sebagai materi dalam
membuat makalah yang menggunakan pembahasan NAPZA
DAFTAR PUSTAKA
penyalahgunaan-narkotika-dan-psikotropika-part-1/ Kisdaryeti.2012.Bahan
Ajar Farmokologi.STIK Bina Husada.Palembang.Sumatera Selatan
Kisdaryeti.2012.Psikotropik.STIK
Bina Husada.Palembang.Sumatera Selatan
Kisdaryeti.2012.Sedatif-Hipnotik.
STIK Bina Husada.Palembang.Sumatera Selatan
Keterkaitan UU Narkotika dengan UU
Psikotropika
Apakah UU
No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika hanya menggantikan UU No. 22 Tahun 1997
tentang Narkotika atau beserta UU No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika? Terima





